Clickbait Berita Online: Dosa Jariyah Redaktur atau Tuntutan Target Perusahaan?
Suatu hari, Saya lagi scroll berita sambil rebahan, ketemu judul: “Innalillahi, Artis Ini Tewas Mengejutkan!!” Panik dong Saya, langsung klik. Eh pas dibaca, ternyata itu berita tentang karakter yang si artis perankan di sinetron yang “tewas” dalam cerita. Saya cuma bisa geleng-geleng sambil ngomong, “Ya Allah, ini judul apa jebakan Batman.” Hampir semua dari Kalian pasti pernah kena prank judul berita online yang bombastis tapi isinya jauh dari ekspektasi.
Kenalan Sama Ekonomi Perhatian
Dalam ilmu media digital ada konsep attention economy atau ekonomi perhatian. Media online hidup dari traffic, dan traffic itu menghasilkan uang dari iklan yang dihitung per klik atau tayang. Logikanya sederhana: makin banyak orang klik, makin banyak duit masuk.
Judul yang bikin penasaran memang efektif karena otak manusia gak suka meninggalkan sesuatu yang belum tuntas. Ini disebut curiosity gap, jurang penasaran yang sengaja dibuat supaya Kalian gak tahan buat gak klik.
Jadi, Siapa yang Salah?
- Redaktur diberi target traffic harian atau bulanan.
- Perusahaan media butuh iklan buat membayar gaji karyawan.
- Pembaca ikut “melatih” media karena tetap klik walau sering kecewa.
Jadi ini lingkaran setan tiga arah: pembaca, redaktur, dan pemilik modal, yang semuanya punya bagian tanggung jawab.
Menjaga Tulisan Itu Amanah
Islam sangat menekankan kejujuran dalam menyampaikan informasi. Allah berfirman dalam QS. Al-Isra ayat 36:
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra: 36)
Judul berita ibarat kesan pertama yang membentuk ekspektasi pembaca. Kalau judulnya menyesatkan dan gak sesuai isi, pembaca merasa dibohongi. Itu bentuk pelanggaran amanah komunikasi meskipun niatnya “cuma cari klik”.
Boleh Menarik, Jangan Menipu
Skill bikin judul menarik sebenarnya sudah ada sejak dulu melalui konsep news value. Bedanya, clickbait memanipulasi nilai berita secara berlebihan sampai keluar dari koridor kejujuran. Judul yang baik mengangkat nilai berita asli tanpa perlu menipu.
Coba bandingin dengan toko yang teriak “Diskon 90%!” tapi ternyata diskonnya cuma Rp500. Pasti kita malas balik lagi. Logikanya sama dengan clickbait: traffic mungkin naik, tetapi kepercayaan pembaca turun.
Menurut Kalian, siapa yang paling patut disalahkan soal clickbait: redaktur, bos media, atau kita sendiri yang tetap klik? Kasih pendapat di komentar!