Etika Wawancara Korban Bencana: Jangan Nanya “Gimana Perasaannya?”, Ya Jelas Sedih Bos!
Waktu Saya masih kuliah dan magang di TV lokal, Saya pernah ikut tim liputan ke lokasi longsor. Di sana Saya lihat reporter senior menyodorkan mic ke Ibu-ibu yang rumahnya baru saja rata dengan tanah, lalu bertanya, “Bagaimana perasaan Ibu saat ini?” Ibu itu cuma diam, mukanya campuran shock dan bingung. Dalam hati Saya protes, “Ya jelas sedih lah Mas, rumahnya baru ambruk!”
Kenalan Sama Jurnalisme Trauma
Trauma-informed journalism adalah pendekatan meliput yang memperhitungkan kondisi psikologis narasumber yang baru mengalami kejadian traumatis. Korban bencana sedang berada dalam mode survival, bukan mode analisis rasional. Pertanyaan template bisa membuat mereka semakin bingung.
Etika jurnalisme bencana menuntut akurasi, humanisme, komitmen menuju rehabilitasi, serta kontrol dan advokasi. Tugas jurnalis bukan hanya mengambil pernyataan, tetapi mempertimbangkan pemulihan korban.
Pertanyaan yang Sebaiknya Dihindari
- “Bagaimana perasaan Anda saat ini?”
- “Apa yang Anda rasakan saat kejadian?”
- Memaksa korban berbicara saat menangis atau shock.
- Menanyakan detail sensasional yang tidak penting bagi publik.
Alternatifnya, tanyakan hal konkret seperti “Apa yang Ibu butuhkan sekarang?” atau “Ada keluarga yang masih belum ditemukan?” Informasinya lebih berguna dan lebih manusiawi.
Islam Mengajarkan Empati
Islam mengenal konsep ta’ziyah, yaitu menghibur orang berduka dengan empati, bukan menambah beban psikologis. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah beriman salah seorang dari kalian sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Coba bayangkan kalau Kalian menjadi korban. Kalian pasti ingin diperlakukan lembut, tidak dipaksa, dan diberi ruang untuk berduka. Prinsip ini harus dipegang jurnalis: kemanusiaan di atas kebutuhan berita.
Berita Penting, Kemanusiaan Lebih Penting
Informasi lapangan tetap penting bagi publik dan proses bantuan, tetapi caranya harus lebih peka. Beri ruang bagi korban untuk menolak diwawancarai tanpa dipaksa.
Pernah menemukan wawancara TV yang terasa keterlaluan dan tidak sensitif? Ceritakan pengalaman Kalian!