Realita Wartawan Magang: Nungguin Pejabat 3 Jam, Diwawancara Cuma 3 Menit

Dulu waktu Saya masih jadi wartawan magang di sebuah media lokal (ya, sebelum akhirnya lebih milih jalur akademik dan jadi dosen KPI yang sekarang bolak-balik ngoreksi skripsi), Saya pernah dapet tugas liputan yang bikin trauma sampai sekarang: nunggu Bapak Pejabat buat wawancara soal proyek infrastruktur. Janjinya jam 9 pagi. Saya udah dandan rapi, bawa notes, rekam-rekaman siap, semangat 45. Eh, sampai jam 12 siang, Pak Pejabatnya baru muncul dari ruang rapat sambil ngomong, “Wah maaf ya dik, tadi rapatnya molor.” Terus Saya diwawancara persis 3 menit 12 detik—Saya hitung dari rekaman—sebelum beliau buru-buru masuk mobil dinas karena ada acara lain. Pulang ke kantor, editor cuma bilang, “Lah kok cuma segini doang bahannya buat bikin berita 500 kata?”

Ini Namanya Ketimpangan Kuasa Simbolik

Dalam ilmu komunikasi ada konsep dari Pierre Bourdieu namanya kuasa simbolik (symbolic power)—kekuasaan yang gak keliatan fisiknya tapi kerasa banget dampaknya, biasanya muncul dari posisi sosial seseorang. Pejabat punya kuasa simbolik yang bikin wartawan (apalagi yang masih magang, alias paling junior di rantai makanan newsroom) otomatis “ngalah” soal waktu dan durasi wawancara.

Coba deh bayangin kalau posisinya dibalik: pejabat yang nunggu wartawan 3 jam. Gak akan pernah terjadi, kan? Karena secara sosial, “waktu wartawan” dianggap lebih murah dibanding “waktu pejabat”. Ini bukan salah personal si pejabatnya doang, tapi struktur sosial media dan kekuasaan di Indonesia yang memang belum banyak berubah dari dulu.

Kenapa Wartawan Magang Jadi “Korban” Paling Sering?

  • Wartawan senior biasanya sudah punya jaringan personal sama sumber berita, jadi lebih gampang negosiasi waktu.
  • Media besar punya “daya tawar” institusional—pejabat lebih sungkan nge-ghosting media nasional dibanding media lokal kecil.
  • Wartawan magang sering dikasih tugas liputan yang “kurang prioritas” buat sumber berita.
  • Belum punya keberanian buat protes atau nego ulang jadwal karena posisi tawarnya lemah.

Menghargai Waktu Orang Itu Bagian dari Akhlak

Islam sangat menekankan pentingnya menghargai waktu dan janji seseorang. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits riwayat Bukhari:

“Tanda-tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila dipercaya ia berkhianat.” (HR. Bukhari)

Janji ketemu jam 9 tapi baru muncul jam 12 itu, walau kelihatannya sepele, sebenarnya termasuk bentuk ingkar janji yang disinggung dalam hadits ini. Bukan berarti Saya nge-judge semua pejabat munafik ya, tapi ini pengingat buat kita semua: siapapun yang bikin janji soal waktu, usahakan ditepati.

Buat Kalian yang lagi atau bakal jadi wartawan magang, pengalaman nunggu 3 jam demi wawancara 3 menit bukan pembuktian kalian gak berharga. Itu latihan kesabaran dan profesionalisme level dewa yang gak semua orang punya.

Jadi, Nunggu Itu Skill Juga

Kalau boleh kasih tips receh dari pengalaman pribadi: bawa cemilan, siapin pertanyaan cadangan yang bisa dijawab singkat padat, dan jangan lupa senyum walau dalam hati udah pengen protes.

Siapa di sini yang juga pernah punya pengalaman “nunggu lama, dapat sedikit” waktu liputan atau urus dokumen ke kantor pemerintahan? Cerita dong!

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url